Perjalanan Menjemput Mimpi bersama Coldplay (AHFOD-Singapore)

“Hei… you know ? I got the ticket for us …surprise…” sebuah pop up pesan masuk di satu aplikasi instant messenger di tengah-tengah pertemuan dengan calon nasabah sukses membuyarkan konsentrasi saya siang itu. Fokus saya tak lagi bersama kokoh Jimmy yang sesungguhnya lebih cocok untuk dipanggil ace’. Saya sudah tak perduli apakah dia tertarik atau tidak dengan penawaran saya saat itu, yang saya butuhkan adalah bagaimana caranya agar bisa buru-buru membalas pesan yang mengejutkan itu.


Setelah tek tok tek tok dengan patjar membahas soal pesan yang dikirimkannya tersebut, akhirnya saya percaya kalau dia benar-benar mendapatkan tiket konser itu. If you guys wondering what I am talking about, YAP I am talking about THAT’S LEGEND CONCERT ALL THE TIME, COLDPLAY CONCERT. Saya memang sedikit terkejut ketika Mas patjar mengabarkan hal ini karena keinginan menonton Coldplay sudah saya buang jauh-jauh sejak beberapa hari sebelumnya ketika dia memberitahukan bahwa kami tak bisa mendapatkan tiket Coldplay Singapore tgl 1 April karena tak mampu menembus website resmi penjualan tiket yang sold out hanya dalam hitungan menit. Namun tak disangka karena melihat animo penonton yang begitu besar, Coldplay pun menambahkan satu hari lagi untuk pergelaran konser mereka. Disinilah kami mendapatkan keberuntungan itu. Akhirnya 4 tiketpun resmi ditangan, abangnya patjar beserta sang istri, patjar dan saya. A lil bit nervous but so excited for the trip because this is my first trip with him and his  family and ofcourse because this is for Coldplay concert.    


The day was come.


Sejujurnya saya tak pernah menyangka bahwa Tuhan mengabulkan salah satu impian saya lebih cepat dari yang pernah saya duga. Saya juga tidak pernah menduga bahwa kesempatan menonton konser untuk pertama kali dalam hidup langsung membawa saya pada sebuah konser impian. COLDPLAY CONCERT bertajuk A Head Full of Dream. Saya memang bukan fans garis keras dari band asal Inggris ini. Saya juga tidak hapal terlalu banyak lagu milik mereka. Tapi semenjak saya melihat cuplikan-cuplikan magisnya world tour concert Coldplay di tahun-tahun sebelumnya dan beberapa lagunya yang sangat baper-able mampu menembus hingga ulu hati. saya pun memasukkan Konser Coldplay sebagai salah satu mimpi teratas saya.



Sampai saya menginjakkan kaki di National Stadium Singapura, saya masih tak percaya bahwa saya benar-benar berada disini untuk menonton konser Coldplay dan akan berada lebih dekat dengan babang Chris dkk. I was like “Beneran ga sih ini ?” “Am I dreaming ?” “Heloooww…somebody tepuk tepuk manja badan saya please” But yeah, saya benar-benar berada disini. Diam-diam saya mencubit pipi dan  berusaha terlihat santai begitu menjejakkan kaki di megahnya stadion yang menjadi rumah baru bagi Tim Nasional sepak bola Singapura sejak 2014 ini. That’s stadion was reallllly big, really really big, I think it was the biggest stadion I’ve ever seen in my life.

Setelah perjuangan antri yang tidak sebentar sejak pukul 14.00 karena kalau dari jam 08.00 itu adalah antri pembuatan SKCK , pada pukul 18.00 gate pun dibuka. Ada 23 gate yang disediakan sebagai jalan masuk ke stadium tergantung dengan jenis Tiket yang dibeli. Barang-barang bawaan diperiksa cukup ketat, tidak boleh membawa camera professional, barang-barang berbahaya (yaiyalah ya), tidak boleh membawa air dari luar tapi tenang saja karna disediakan cukup banyak Fountain Water untuk mengambil air dan juga tidak boleh membawa tongsis kedalam. Saya yang tidak tau mengenai ini sudah pasrah saja jika tongsis yang sudah terlanjur dibawa harus disita tapi thanks to keluarga dan orang-orang yang telah mendukung saya *iniapaaaah* karena si tongsis akhirnya lolos dari pengecekan.

Setelah melakukan pengecekan cukup ketat mengenai barang-barang bawaan dan mendapatkan sebuah wristband LED (The most famous gelang berlampu in the world) dan sebuah love pin, kami pun dipersilahkan untuk memasuki area stadion secara teratur. Penuh. Mungkin itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana stadium hati bahagia saya saat sudah berada di arena stadion.  Panggung yang besar dengan 3 screen besar bersamanya mempertegas kemegahan dari pertunjukan yang sebentar lagi akan ditampilkan sebagai pembuka rangkaian world tour concert Coldplay di 2017 ini. Posisi kami yang tidak terlalu jauh dari panggung (Standing Pen B) membuat saya semakin tak dapat mengontrol perasaan. Saya tak bisa lepas menggengam tangan mas patjar sebagai bentuk terimakasih atas hadiah manisnya telah mewujudkan ini untuk saya. I can’t thank enough for having him as my partner.











Pukul 19.00 lewat konserpun dimulai dengan Opening act dari seorang penyanyi muda asal Australia, Jess Kent. Meski tak familiar dengan lagu-lagu yang dibawakannya, namun penampilan energiknya cukup untuk memanaskan suasana,saat itu. Setelah lagu terakhir dibawakan oleh Jess, lampu stadium pun dimatikan, pertanda konser sesungguhnya akan dimulai, gemuruh tepuk tangan dan teriakan-teriakan berseru Coldplay !!! Coldplay !!! pun bergaung di stadium berkapasitas 50.000 orang tersebut.


Hingga saatnya benar-benar tiba, seruan teriakan Coldplay semakin kencang dan intro lagu pembuka “A Head Full of Dream” mengalun sambil Chris Martin berlari memasuki panggung sambil bersujud dan mencium panggung (Ternyata ini adalah salah satu ritual panggung yang kerap dilakukan Chris sebelum benyanyi). Sebut saya berlebihan, tapi mendengar intro A Head Full Dream di konser Coldplay secara langsung dengan euphoria konser seperti itu, I have to say that intro is the most beautiful intro music that I’ve heard.


Okay. Breath.


Lagu-lagu pun dinyanyikan dengan sangat meriah diikuti oleh permainan pencahayaan dan wristband yang menyala menambah magis konser ini, tak lupa ketika momen Chris memainkan gitarnya dan disusul dengan menguningnya seisi stadium oleh wristband yang mengeluarkan cahaya kuning saat lagu “Yellow” dimainkan. Atau mengeluarkan cahaya warna merah saat lagu baper sepanjang masa “Fix You” dibawakan. Mendengarkan fix you dinyanyikan dengan sangat syahdu oleh pemiliknya lansung sembari sing along bersama sambil tak melepas genggaman tangan dengan mas patjar, I’d like to say that its sooo good. One of the most romantic moments in my life. Tidak cukup hanya bermain pada pencahayaan, mereka pun melakukan performing act  dengan menghujani penonton dengan ribuan bintang dari kertas ketika lagu “A Sky Full of Stars” dinyanyikan, dan saatnya tiba lagu “Magic” dibawakan, banyak balon-balon besar disebarkan dan kemudian dijadikan mainan bagi para penonton. Seakan punya energi yang tidak pernah berkurang (Curiga ini vitaminnya chris dkk pakai apa bisa energik terus tanpa kendor ), lagu-lagu pun terus dinyanyikan mulai dari lagu-lagu yang ada di album A Head Full of Dream hingga lagu-lagu dari album sebelumnya. Bahkan single terbaru mereka featuring The Cainsmokers “Something Just Like This” juga dibawakan. Konon, Singapura ini adalah negara pertama yang kebagian rezeki dibawakannya “Something Just Like This”dari pergelaran world tour ini.  Semua orang, baik fans fanatic atau tidak, hapal seluruh lagunya atau tidak, atau hanya orang orang tua yang sekedar menemani anaknya menonton konser, semuanya larut dalam euphoria magis konser ini. Menyanyi, menari, lompat dan berteriak. Semuanya melebur menjadi satu.

Salah satu momen tidak terlupa lainnya adalah ketika di tengah-tengah konser, Chris dan pemain lainnya berpindah panggung ke panggung kecil yang berada dekat dengan Standing area pen B tempat kami berdiri. It was so close..I think maybe they’re not more 30 meters from us. I can see that Goddam handsome Chris’s face. Meski hal itu tidak berlangsung lama karena mereka kembali lagi ke panggung utama, namun cukup untuk membahagiakan kami, para penonton yang berada di Standing Pen B.


Sepanjang konser juga Chris berusaha untuk sering melakukan interaksi dengan para penonton konsernya. Memberikan jokes-jokes ringan untuk mencairkan suasana. Tak lupa juga dia mengucapkan terimakasih atas antusiasme penonton yang sangat luar biasa, para penonton yang datang dari seluruh penjuru Asia khususnya ASEAN seperti penonton-penonton dari Indonesia dan Malaysia yang masih belum mendapat jatah untuk menjadi bagian dari World Tour Concert dari Coldplay.


Setelah 19 lagu dibawakan, Chris Martin dkk memilih ”Up & up” sebagai lagu terakhir yang mereka bawakan. Semua penonton berteriak meminta encore tapi sayang sekali tidak dikabulkan oleh Chris dkk mengingat mereka masih harus melakukan pertunjukan lagi di Stadium ini keesokan harinya. Meski begitu saya merasa sangat puas untuk 20 lagu yang mereka bawakan dengan penuh cinta untuk penontonnya. Ini adalah pertunjukan paling keren yang pernah saya lihat dan DEFINITELY, kalau Allah mengizinkan dengan diberikan rezeki, langkah dan kesehatan, saya ingin menonton konser Coldplay lagi suatu hari nanti. AMIN.


Satu kata untuk menggambarkan konser Coldplay malam kemarin, Surreal.  Seperti salah satu lagu mereka ‘Magic’. That concert was magic. Untuk kita yang memiliki mimpi, apapun itu. Marilah terus untuk menguntainya, siapa tau semesta dengan tangan-tangan ajaibnya membantu kita untuk menuntaskannya. Sekarang atau nanti, yakinilah bahwa semua akan indah pada waktunya tiba. Kami pun keluar dari arena stadium dengan rasa puas di wajah masing-masing, senyum yang masih mengembang dan dengan kepala penuh dengan cerita untuk dibawa pulang.

Thankyou Coldplay,                                                                                                                       Thankyou Singapore                                                                                                                     Thankyou you,


Sekian–


*PS : Saking excitednya I forgot to take many pictures. Bahkan cuma punya satu foto personil lengkap itupun aga blur. Foto-foto lainnya juga mostly blur.. Huhuhu..but its okay… i still can memorize all that moments in my mind and my heart.

0 Comments