Secuplik Cerita dari Samosir

Sebagai seorang yang lahir, tumbuh dan besar di kota Medan sesungguhnya saya merasa gagal jadi anak Medan. Bukan karena saya melakukan tindakan apapun yang merugikan nama baik kota tercinta ini, tapi karena saya merasa masih sedikit sekali mengenal kota ini terlebih tempat wisatanya. Sebagai orang yang mengaku-ngaku mencintai dan menjadikan traveling sebagai passion hidupnya, pengetahuan saya tentang tempat-tempat menarik di Medan dan Sumatera Utara sekitarnya bisa dikatakan cetek sekali. Bukan karena tidak ada keinginan, tapi memang karena jarang sekali ada kesempatan untuk bisa meng-explore lebih banyak. Selain itu juga mungkin karena saya berpikiran bahwa ini kota dan daerah saya, masih banyak waktu untuk bermain-main disini. Mungkin lebih baik jika saya lebih memprioritaskan tempat-tempat yang lebih jauh selagi masih punya dana, tenaga, dan waktu. Setidaknya itu yang saya katakan pada diri untuk membesarkan hati.


Tapi ternyata semesta itu baik, secara tidak begitu direncanakan saya memiliki kesempatan untuk melakukan mini gateaway ke Prapat setelah kunjungan terakhir saya tiga tahun silam. Meski hanya ke Prapat tapi saya benar-benar menanti perjalanan ini. Penasaran tentang bagaimana rupa Danau Toba sekarang.


Memilih libur natal kemarin sebagai waktu untuk mengunjungi Prapat bisa dikatakan sebagai tindakan cukup berani. Bagaimana tidak, Medan dan Prapat sangat crowded di saat natal dan menjelang tahun baru seperti ini dikarenakan banyaknya para pemudik yang kembali dari tanah perantauan. Tentu berbagai tempat wisata akan dijadikan sebagai tempat persinggahan untuk berkumpul bersama keluarga dan teman. Tapi saya tetap antusias dengan perjalanan ini. Bagi saya, kesenangan perjalanan bukanlah perkara destinasi dan kondisinya tapi bagaimana kita tetap dapat menikmati setiap hal yang terjadi didalamnya.


#YAALLAHBETAPABERATNYABAHASASIDEBBY!!


Hari-H tiba. 24 Desember, berangkat dari Bandara KualaNamu, rencananya kami akan menaiki travel Nice Trans menuju Prapat, selain karena Nice Trans adalah travel resmi, armada nya banyak, juga harganya relatif terjangkau hanya Rp.85.000,- / orang. Kekurangannya naik travel seperti ini adalah kita harus bersabar menunggu sampai penumpang penuh 7 orang untuk ukuran mobil avanza. Jika penumpang tidak penuh juga, pilihannya hanya ada dua, mobil tidak akan berangkat sampai benar-benar penuh atau kita (penumpang yang sudah terkumpul) harus rela membayar ekstra untuk menutupi biaya BBM. Tapi yang kemudian terjadi pada kami adalah sebaliknya, bukannya kekurangan penumpang, tapi malah kehabisan mobil, padahal saya sudah melakukan booking beberapa hari sebelumnya. Faktor hari libur menjadi penyebab lonjakan permintaan travel ke Prapat sangat padat. Akhirnya dibantu pihak Nice Trans kami diarahkan untuk menggunakan travel gelap atau tidak resmi, karena memang tidak punya banyak pilihan kami pun menyetujui dengan harga yang sedikit lebih mahal Rp.120.000.- / orang.

  • Nice Trans
  • Loket Medan : Jl Stasiun Kereta Api No 1 Medan (061) 4558844
  • Loket T.Tinggi : Jl Thamrin No. 111 Simp. Bandar Sono (0621) 32929
  • Loket Parapat : Jl Sisingamangaraja No. 02 Parapt HP 0812 6425 0898

Pukul tujuh malam, kami tiba di Kota Prapat, Untuk hari pertama ini kami akan menginap di Hotel Dharma Agung dan besok setelah sarapan kami akan menyebrang ke Samosir dan menginap di Tuk Tuk untuk hari berikutnya. Salah satu yang tidak boleh terlupa saat akan menyebrang ke Samosir adalah pelabuhan yang akan digunakan, Jika kamu membawa mobil pribadi maka pelabuhan yang harus dituju adalah pelabuhan Ajibata, namun jika tidak membawa kendaraan kamu bisa menyebrang lewat pelabuhan Tiga Raja. Untungnya Hotel Dharma Agung adalah salah satu hotel pinggir danau dimana kapal dari Tiga Raja yang menuju Samosir akan menyinggahi setiap hotel pinggir danau untuk mengangkut penumpang. Jadi kami tak perlu repot lagi untuk ke Pelabuhan Tiga Raja.


danau toba

Fenomena Batu Gantung di Samosir

Di samosir, kami mendatangi Tomok dan Ambarita. Tomok sendiri adalah salah satu desa yang berada di pulau Samosir, di Tomok kita bisa melihat patung sigale-gale yang melegenda itu, patung yang konon selalu menari mengikuti alunan gondang batak. Disini juga terdapat kompleks makam Raja Sidabutar dan beberapa Raja lainnya. Kami juga menyempatkan diri mendatangi museum Batak, museum yang berbentuk rumah Bolon ( rumah adat khusus para Raja dan keluarganya ). Di rumah bolon ini tidak ada dinding pemisah antara satu ruangan dan ruangan lainnya. Satu-satunya yang dijadikan penyekat antar ruangan adalah kain ulos yang dibentangkan. Di dalam museum ini terdapat lumayan banyak barang-barang peninggalan masa kerajaan. Mulai dari senjata hingga tempat tidur yang digunakan pada masa itu.


Dari Tomok kami melipir ke Ambarita, desa lain yang berada di Pulau Samosir. Ambarita terkenal dengan batu kursi Raja Siallagan. Disini terdapat batu-batu yang digunakan sebaga meja dan kursi untuk para Raja bersidang. Hukuman mati seperti penggal adalah hal yang umum dilakukan pada masa itu. Di desa ini juga terdapat banyak rumah bolon yang berjejer rapi. Pada hari-hari tertentu tarian batak akan dipertontonkan dan para pengunjung bisa ikut serta didalamnya.


Patung menari ?


Puas berkeliling di situs-situs bersejarah, kini saatnya menikmati Samosir dari sudut yang paling menyenangkan hasrat wanita, apalagi kalau bukan BERBELANJA. Di sepanjang jalan dekat objek-objek wisata Tomok dan Ambarita sudah berjejer dengan rapi kios-kios penjaja souvenir khas daerah sini. Mulai dari gantungan kunci, patung, pakaian hingga kain ulos yang tersohor itu. Jika memiliki rezeki lebih, membeli kain ulos asli batak bisa menjadi kenang-kenangan manis dari tempat ini.


Sudah sore hari dan kami melanjutkan perjalanan menuju Desa TukTuk yang masih berada di Pulau Samosir. Di desa inilah tempat berkumpul berbagai macam penginapan murah hingga mahal dengan tawaran pemandangan langsung Danau Toba dari depan kamar. Menginap kali ini kami memilih Samosir Cottage sebagai tempat beristirahat. Penginapan ini sangat menyenangkan, salah satu penginapan yang saya rekomendasikan ketika berada di Samosir. Doakan saja saya tetap rajin agar bisa membuat review selengkapnya.


_sekian dan terima pelukan_^^_ 



0 Comments