Hongkong dan Airbnb, Why Not ?

Masih dalam edisi Hongkong trip writing series, kali ini saya ingin membahas mengenai pilihan menginap di perjalanan ini. Memilih akomodasi saat traveling merupakan hal yang gampang gampang susah, setidaknya menurut saya. Tidak hanya harus menyesuaikan dengan budget, tapi juga harus memikirkan soal lokasi, akses yang tidak menyulitkan, dan paling penting kenyamanan. Meski biasanya akomodasi ini hanya berperan menjadi tempat singgah untuk tidur tapi faktor faktor seperti kenyamanan tetap harus di prioritaskan karna pasti ga mau dong ya mood jalan jalan kita menjadi berantakan karena tidur yang tidak nyaman setelah seharian berjalan-jalan,


Namun kini, dengan kemajuan zaman dan teknologi, (Thanks God for that), kita sebagai pejalan, traveler, turis or anything you name it memiliki tambahan alternative lain untuk memilih sebuah akomodasi di destinasi tujuan. Dan alternative itu bernama Mawar Airbnb. Sebuah startup aplikasi yang mulai didirikan sejak 2007 silam dan berkembang dengan pesat dalam 5 tahun belakangan ini, Airbnb merupakan wadah/marketplace yang mempertemukan kita para pencari akomodasi dengan mereka yang ingin menyewakan hunian/property untuk mendapatkan penghasilan tambahan, property yang disewakan bisa merupakan keseluruhan hunian rumah/apartment/kondominium atau hanya sebahagian ruangan seperti hanya bagian kamar saja. Dengan harga yang ditawarkan lebih murah dari hotel rate pada umumnya, Airbnb memiliki kelebihan lain yang mungkin tak bisa di dapatkan jika menginap di hotel yaitu pengalaman menginap seperti bagaimana warga lokal tinggal. Karena biasanya hunian yang disewakan adalah hunian milik pribadi sehingga kita bisa ikut  merasakan bagaimana para lokal tinggal dan berkehidupan sehari harinya.


Dalam perjalanan ke Hongkong ini, Airbnb pun menjadi pilihan kami, ini adalah kali kedua saya menggunakan aplikasi ini, namun yang pertama kemarin, bukan saya yang mencari dan berhubungan dengan host (sebutan bagi pemilik properti), jadi saya tak begitu tau dan mengikuti prosesnya. Mengingat pengalaman pertama kemarin ternyata cukup baik, maka kali ini saya ingin mencoba peruntungan kembali dengan aplikasi ini.


Proses pencarian dan penentuan hunian yang akan dipilih cukup banyak menyita waktu karena ada begitu banyak pilihan yang tersedia, untungnya kami sudah menentukan satu district yang akan kami pilih untuk tinggal yaitu “Kowloon” sehingga dapat mempersempit pencarian, yang kemudian dilakukan adalah memperkecil lagi pilihan dengan hunian yang bisa menampung 5 orang sekaligus, host dengan rating tinggi, dan harga yang masuk dalam budget kami. Hingga akhirnya, setelah pencarian dan perenungan cukup mendalam, Sedalam lautan doang kok bukan sedalam hatinya manusia. Pilihan pun jatuh kepada sebuah hunian apartement cukup murah affordable yang memiliki 2 kamar dengan 3 tempat tidur dan bisa menampung hingga 5 orang. Menurut saya, pilihan ini adalah pilihan terbaik yang bisa saya dapatkan. Satu Harga murah 1.5 juta rupiah permalam (setidaknya untuk ukuran akomodasi di Hongkong ini sudah termasuk sangat murah karena demi Venus, Neptunus, dan Uranus. Hongkong itu mahal banget untuk living costnya termasuk tempat tinggal, jadi yah bisa mendapatkan harga segini sudah cukup beruntung), kedua lokasi strategis, strategis disini dalam artian berada di tengah pusat kota Kowloon, salah satu distrik paling sibuk di Hongkong, yang mana sangat dekat ke pusat perbelanjaan, pusat perkantoran , stasiun MRT dan pemberhentian Bus dan ketiga cukup untuk menampung kami semua (5 orang) hingga tak perlu menjadi gelandangan di tanah asing ini.

Nama Host (pemilik hunian) kami adalah Anna, beruntung, anna cukup lancar berbahasa Inggris saat kami harus berkomunikasi via chat untuk membicarakan jadwal tiba. Tidak seperti hotel yang selalu memiliki pegawai receipsionist stand by 24 jam kapanpun kita tiba, di Airbnb kita harus berkomunikasi secara langsung dengan host , membuat janji temu untuk check in, kini kenapa kemampuan cukup baik Anna dalam berbahasa Inggris cukup membantu mempermudah jalannya komunikasi, karena seperti yang kita tau, Bahasa Kanton Chinese adalah bahasa utama di negara ini dan bisa dibilang tidak cukup banyak warganya yang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Proses Check in pun cukup sederhana, teman saya yang kebetulan duluan sampai ke hongkong, bertugas mengurusi perihal check ini, tadinya dia berfikir akan bertemu langsung dengan Anna, ternyata yang menunggunya di pemberhentian bus adalah seorang laki-laki, yang belakangan kami tau adalah salah satu pegawainya Anna, dan belakangan juga kami tau bahwa ternyata Anna tidak hanya memiliki satu hunian yang disewakan tapi beberapa apartemen yang tersebar di Kowloon ini. “Wow… sungguh bisnis yang menggiurkan dengan passive income yang menjanjikan….” Setelah pegawai Anna bertemu dengan teman saya, maka ia pun membawa teman saya ke apartementnya, menyerahkan kunci dan menjelaskan sedikit mengenai peralatan,password wifi, pengunaan AC dan lainnya. Dan yah begitu saja, proses serah terima itu pun terjadi dan tak lupa ia mengingatkan jika ingin check out cukup tinggalkan kunci di atas meja dan tutup pintu begitu saja. Sungguh sebuah proses yang sederhana dan tak bertele-tele.

Lift naik ke apartement yang berada di lantai 13

Saat kami semua tiba di apartemen, kesan pertama saya adalah kecil banget. Iyap. Untuk ukuran sebuah apartement 2 kamar menurut saya ini kecil. Setidaknya saya membandingkan dengan beberapa apartemen 2 kamar di Jakarta yang sepertinya 2 kali ukuran dari tempat ini. Makin shock saat masuk ke kamar mandinya yang ternyata cuma muat sebadan. Literally sebadan lebih dikit. Untuk ukuran biaya 1.5 juta / malam yang dikeluarkan, kalau tidak mengingat bahwa ini adalah Hongkong dengan harga tanah permeternya paling mahal kedua sedunia, mungkin saya sudah mencak mencak stress duluan, tapi ternyata memang inilah yang lumrah di negara ini, hunian sempit yang berada di barisan barisan apartemen menjulang tinggi ini adalah hunian yang biasa bagi para warga lokalnya. Bahkan katanya, mereka yang bisa membeli sepetak kecil apartemen/rumah susun di negara ini adalah mereka yang masuk dalam golongan2 masyarakat beruntung, mengingat banyaknya orang yang tidak punya kemampuan untuk memiliki hunian pribadi dan berakhir dengan menyewa di rumah rumah susun yang kumuh hingga akhir hidupnya. Tak hanya itu, mahalnya tanah disini membuat kita akan melihat banyak dan masifnya gedung-gedung pencakar langit. Bukan.. bukan karena mereka menyukainya. Tapi karena mereka menyiasati dengan membuat gedung gedung semakin menjulan tinggi ke atas hinga tak membutuhkan tanah yang luas lagi.






Secara keseluruhan saya cukup puas tinggal di hunian Anna. Kamar mandi  kecil dan lift yang sudah tua dan agak menyeramkan mungkin adalah beberapa hal kecil yang membuat saya sedikit tidak nyaman, tapi tidak menjadi masalah. Ketersediaan dapur, wifi yang kencang, lokasi yang sangat strategis dan dekat dengan berbagai minimart serta Anna yang ramah menjawab setiap pertanyaan kami selama tinggal berhasil  meninggalkan kesan yang baik untuk kami. Setidaknya bagi saya.


Pengalaman kedua saya menggunakan Airbnb ini memberikan pengalaman yang sama baiknya seperti pengalaman pertama kemarin. Bisa dibilang, kini Airbnb akan menjadi pilihan pertama saya saat mencari akomodasi saat traveling di masa depan. Kapan lagi bukan, tinggal di hunian lokal dan merasakan budaya tinggal warganya dengan harga akomodasi yang lebih bersahabat dari pada akomadasi konvensional lainnya ? you know, seperti pepatah lama yang mengatakan, “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui” 


Hehe .. terserah mau berapa pulau yang terlampaui, yang penting mah paling murah dan paling cuan…


iya engga ? iya dooongg… :))


__Tabiq__

0 Comments